HOLY GRAIL

by 12:35 PM 0 komentar
Artikel Cawan Suci ini adalah kutipaan dari Novel Da vinci Code.

Banyak orang menjual angan-angan
dan mukjizat-mukjizat semu, mengelabui orang-orang bodoh
LEONARDO DA VINCI
"Ini ada satu lagi," kata Teabing, sambil menunjuk pada kutipan yang lain.
Kelalaian membuta menyesatkan kita
O! Makhluk hidup celaka, buka mata kalian.'
-LEONARDO DA VINCI
 "Perasaan Leonardo tentang Alkitab ber­hubungan langsung dengan Holy Grail. Kenyataannya, 
Da Vinci melukis Grail yang asli, yang akan kutunjukkan kepadamu se­bentar lagi, tetapi pertama-tama kita harus berbicara tentang Al­kitab." Teabing tersenyum. "Dan, segala yang kauingin tahu tentang Alkitab dapat disimpulkan oleh doktor agama yang terkenal, Martyn Perry." Teabing berdaham dan menyatakan, "Alkitab tidak datang dengan cara difaks dari surga."
"Maaf?"
"Alkitab adalah buatan manusia, Nona. Bukan Tuhan. Alkitab tidak jatuh secara ajaib dari awan. Orang membuatnya sebagai catatan sejarah dari hiruk-pikuk zaman, dan itu telah melibatkan penerjemahan, penambahan, dan revisi yang tak terhitung. Sejarah tidak pernah punya versi pasti buku itu."
"Okay. "
"Yesus Kristus merupakan tokoh sejarah dengan pengaruh luar biasa, mungkin pemimpin yang paling membingungkan dan paling melahirkan inspirasi yang pernah ada di dunia. Seperti Messiah yang diramalkan, Yesus melebihi raja-raja, memberi inspirasi kepada jutaan orang, dan mendirikan filosofi baru. Sebagai keturunan Raja Salomo dan Raja David, Yesus berhak mewarisi takhta Raja Yahudi. Dapat dimengerti, kehidupan-Nya dicatat oleh ribuan pengikut di seluruh bumi ini." Teabing terdiam sejenak untuk menghirup tehnya, kemudian meletakkan cangkirnya kembali di atas bibir perapian. "Lebih dari delapan puluh kitab Injil telah dipertimbangkan untuk masuk dalam Perjanjian Baru, namun akhirnya hanya relatif sedikit yang dipilih untuk dicantumkan­di antaranya Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes."
"Siapa yang memilih kitab Injil mana untuk dicantumkan?" tanya Sophie.
"Aha!" Teabing meledak bersemangat. "Ironi mendasar dari Kristen! Alkitab yang kita kenal sekarang ini disusun oleh kaisar Roma yang pagan, Konstantin Agung."
"Kukira Konstantin penganut Kristen," kata Sophie.
"Tak benar," Teabing terbatuk. "Dia seorang pagan seumur hidup. Dia dibaptis pada ranjang kematiannya, ketika dirinya ter­lalu lemah untuk melawan. Di masa Konstantin, agama resmi Romawi adalah pemujaan matahari-kelompok  pemujaan Sol Invictus, atau Matahari Tak Tertandingi-dan Konstantin adalah pendeta kepalanya. Celaka baginya, sebuah guncangan religius tumbuh dan mencengkeram Roma. Tiga abad setelah penyaliban Yesus Kristus, para pengikut Kristus tumbuh berlipat-lipat. Kaum Kristen dan pagan mulai berperang, dan konflik itu tumbuh sedemikian besar sehingga mengancam akan membelah Roma menjadi dua. Konstantin memutuskan bahwa sesuatu harus dilakukan. Pada tahun 325 Masehi, ia memutuskan untuk menyatukan Romawi dalam sebuah agama tunggal. Kristen."
Sophie terkejut. "Mengapa seorang kaisar pagan memilih Kristen sebagai agama resmi.”
Teabing tergelak. "Konstantin adalah pebisnis kawakan. Dia dapat melihat bahwa Kristen sedang bangkit, dan ia sekadar ber­taruh pada kuda pemenang. Para sejarawan masih memuji kece­merlangan Konstantin yang mengalihkan kaum pagan pemuja ma­tahari menjadi Kristen. Dengan meleburkan simbol-simbol, tanggal-tanggal, serta ritus-ritus pagan ke dalam adat-istiadat Kristen yang sedang tumbuh, dia telah menciptakan sejenis agama hibrid yang dapat diterima oleh kedua belah pihak."
"Transmogrifikasi," ujar Langdon. "Jejak-jejak agama pagan dalam simbologi Kristen tak terbantahkan. Cakram matahari kaum Mesir kuno menjadi lingkaran halo para santo Katolik. Berbagai piktogram Isis yang sedang menyusui putcanya yang lahir karena mukjizat, Horus, menjadi cetak biru bagi berbagai penggambaran modern kita akan Perawan Maria yang sedang menyusui Bayi Yesus. Dan, nyaris semua unsur dalam ritus Katolik-mitra, altar, doksologi, dan komuni, atau tindakan "makan Tuhan"--- diambil langsung dari agama-agama misteri pagan di masa awal."
Teabing mengerang. "Jangan biarkan seorang simbolog mulai bicara tentang ikon-ikcn Kristen. Tak ada yang asli dalam Kristen.
Mithra, Tuhan pra-Kristen-disebut Putra Tuhan dan Cahaya Dunia-lahir dan mati pada 25 Desember, dikubur dalam sebuah makam batu, dan kemudian dibangkitkan dalam tiga hari. Omong­omong, 25 Desember juga hari lahir Osiris, Adonis, dan Dionysus. Krishna yang baru lahir dihadiahi emas, dupa, dan kemenyan. Bahkan hari suci mingguan orang Kristen dicuri dari kaum pagan."
"Apa maksudmu?"
"Aslinya," kata Langdon, "Kristen menghormati Sabat Yahudi pada hari Sabtu, tapi Konstantin menggesernya agar bertemu dengan hari kaum pagan memuliakan matahari." Dia mengambil jeda, menyeringai. "Hingga hari ini, kebanyakan jemaat gereja menghadiri layanan Gereja pada Minggu pagi tanpa sadar sama sekali bahwa mereka sedang melakukan penghormatan mingguan pada dewa matahari kaum pagan ---Sun-day, hari matahari."
Kepala Sophie berputar tak karuan. "Dan segala hal ini berhubungan dengan Grail?"
"Memang," kata Teabing. "Bersabarlah sejenak. Selama fusi agama-agama itu, Konstantin perlu memperkuat tradisi Kristen baru, dan dia mengadakan sebuah pertemuan ekumenikal termasyhur, yang dikenal dengan nama Konsili Nicea."
Sophie hanya mendengarnya sebagai tempat lahir Pengakuan Iman Nicea.
"Dalam pertemuan ini," kata Teabing, "banyak aspek dari Kristen diperdebatkan dan ditetapkan berdasarkan voting-tanggal Paskah, peranan para uskup, administrasi sekramen, dan, tentu saja, ketuhanan Yesus."
"Aku tak mengerti. Ketuhanan Yesus?"
"Sayangku," tegas Teabing, "hingga saat itu dalam sejarah, Yesus dipandang oleh para pengikut-Nya sebagai nabi yang dapat mati ... seorang lelaki agung yang punya kekuatan, tapi tak lebih dari seorang manusia. Seorang fana, manusia biasa."
"Bukan Putra Tuhan?"
"Benar," sahut Teabing. "Penetapan Yesus sebagai `Putra Tuhan' secara resmi diusulkan dan ditetapkan melalui voting oleh Konsili Niicea."
"Tunggu dulu. Maksudmu, keilahian Yesus adalah hasil voting.' "Sebuah voting yang ketat, sebenarnya," tambah Teabing, "Walau begitu, menetapkan keilahian Kristus penting sekali bagi penyatuan lebih jauh kekaisaran Romawi dan bagi basis kekuatan Vatikan yang baru. Dengan secara resmi memuja Yesus sebagai Putra Tuhan, Konstantin mengubah Yesus menjadi dewa yang berada di luar cakupan dunia manusia, sebuah entitas dengan kekuatan yang tak tertandingi. Ini bukan hanya menyisihkan tantangan selanjutnya dari kaum pagan terhadap Kristen, tapi membuat para pengikut Kristus kini dapat menebus diri mereka hanya melalui pembuatan sebuah saluran suci - Gereja Katolik Roma."
Sophie melirik Langdon, dan Langdon memberinya sebuah anggukan lembut tanda pembenaran.
"Semua ini masalah kekuasaan," lanjut Teabing. "Kristus sebagai Juru Selamat adalah amat penting bagi berfungsinya Gereja dan negara. Banyak sarjana mengklaim bahwa Gereja masa awal benar-benar mencuri Yesus dari para pengikut asli-Nya, dengan membajak pesan-pesan manusiawi-Nya, mengaburkannya dalam jubah ketuhanan yang tak tertembus, dan menggunakannya untuk meluaskan kekuasaan mereka. Aku telah menulis beberapa buku mengenai topik ini."
"Aku menduga, orang-orang Kristen yang taat mengirimimu surat-surat permusuhan setiap hari?"
"Mengapa mereka mau melakukan itu?" sergah Teabing. "Mayoritas besar orang Kristen terdidik mengetahui sejarah iman mereka. Yesus memanglah seorang manusia agung dan berkuasa. Manuver politik bawah tangan dari Konstantin tidak memupuskan keagungan hidup Kristus. Tak ada yang mengatakan bahwa Kristus adalah tokoh gadungan, atau menyangkal bahwa Dia berjalan dimuka bumi dan mengilhami jutaan orang untuk memperbaiki hidup mereka. Yang kita katakan di sini hanyalah, Konstantin mengambil keuntungan dari pengaruh dan arti penting Kristus yang besar. Dan dalam melakukan itu, dia telah membentuk wajah Kristen seperti yang kita kenal sekarang."
Sophie menatap sekilas buku seni di hadapannya, bergairah untuk terus maju dan melihat lukisan Holy Grail dari Da Vinci. "Masalahnya adalah ini," kata Teabing, kini bicaranya lebih cepat. "Karena Konstantin meningkatkan status Yesus hampir empat abad setelah kematian Yesus, ribuan dokumen yang mencatat kehidupan-Nya sebagai manusia biasa sudah terlanjur ada. Untuk menulis ulang buku-buku sejarah, Konstantin tahu bahwa ia perlu mengambil sebuah langkah berani. Dari sinilah timbul sebuah momen paling menentukan dalam sejarah Kristen." Teabing berhenti sejenak, menatap Sophie. "Konstantin menitahkan dan membiayai penyusunan sebuah Alkitab baru, yang meniadakan semua kitab Injil yang berbicara tentang segala perilaku manusiawi Yesus, serta memasukkan kitab-kitab Injil yang membuat-Nya seakan Tuhan. Kitab-kitab Injil terdahulu dianggap melanggar hukum, lalu dikumpulkan dan dibakar."
"Sebuah catatan menarik," tambah Langdon. "Siapa pun yang memilih kitab-kitab Injil yang terlarang dan bukannya versi Konstantin akan dianggap sebagai kaum bidah, heretic. Kata heretic diambil dari momen sejarah tersebut. Kata Latin haereticus berarti `pilihan'. Mereka yang `memilih' sejarah asli dari Kristus adalah kaum heretic pertama di dunia."
"Untungnya bagi para sejarawan," kata Teabing, "beberapa kitab Injil yang dicoba untuk dimusnahkan oleh Konstantin berhasil diselamatkan. Dead Sea Scrolls, Gulungan-Gulungan Laut Mati, ditemukan pada tahun 1950-an tersembunyi di sebuah gua dekat Qumran di gurun Yudea. Dan, tentu saja, Gulungan Koptik pada tahun 1945 di Nag Hammadi. Sebagai tambahan dari penuturan kisah Grail sejati, dokumen-dokumen ini berbicara tentang kependetaan Kristus dalam keadaan-keadaan yang amat manusiawi. Tentu saja Vatikan, dalam memelihara tradisi misinformasi mereka, mencoba amat keras untuk menekan pengabaran gulungan-gulungan naskah ini. Mengapa tidak? Gulungan-gulungan itu menggaris bawahi ketidak cocokan dan pemalsuan sejarah yang mencolok, jelas-jelas membenarkan bahwa Alkitab modern disusun dan diedit oleh manusia yang memiliki sebuah agenda politis untuk mempromosikan keilahian seorang lelaki bernama Yesus Kristus dan memanfaatkan pengaruh-Nya untuk mengukuhkan basis kuasa mereka sendiri."
"Namun," sanggah Langdon, "amatlah penting untuk mengingat bahwa hasrat Gereja modern untuk menekan dokumen­dokumen ini datang dari kepercayaan tulus yang lahir dari pandangan mapan mereka akan Kristus. Vatikan terbangun dari orang­orang yang teramat saleh, yang sungguh-sungguh percaya bahwa dokumen-dokumen yang bertentangan ini tak bisa lain adalah kesaksian palsu."
Teabing tergelak, sambil menyantaikan dirinya pada sebuah kursi di hadapan Sophie. "Seperti yang dapat kaulihat, profesor kita ini punya hati yang jauh lebih lunak terhadap Roma daripada hatiku. Walau begitu, ia benar mengenai kaum pendeta yang meyakini dokumen-dokumen penentang ini sebagai kesaksian palsu. Itu dapat dimengerti. Alkitab versi Konstantin telah menjadi kebenaran mereka selama berabad-abad. Tiada seorang pun yang lebih terindoktrinasi kecuali pendoktrin itu sendiri."
"Maksud dia," kata Langdon, "adalah bahwa kita memuja tuhan-tuhan dari para leluhur kita."
"Maksudku," sergah Teabing, "adalah bahwa nyaris segala yang diajarkan para leluhur kita tentang Kristus adalah palsu. Sebagai mana kisah-kisah Holy Grail ini."
Sophie memandang lagi kutipan Da Vinci di depannya. Kebodohan membutakan telah menyesatkan kita. O! Orang-orang bodoh, bukalah mata kalian!
Teabing meraih buku ini dan membuka lembar demi lembar hingga ke tengahnya. "Dan akhirnya, sebelum aku tunjukkan padamu lukisan-lukisan Da Vinci tentang Holy Grail, aku ingin kau melihat ini sekilas." Ia membuka buku itu tepat pada sebuah grafis warna-warni yang membentang sepenuh halaman. "Aku pikir kau mengenali lukisan ini?"
Dia bercanda, bukan? Sophie menatap lukisan paling masyhur sepanjang masa, The Last Supper, lukisan legendaris Da Vinci dari dinding Santa Maria delle Grazie di Milan. Lukisan yang meluntur itu menggambarkan Yesus dan para murid-Nya pada saat Yesus mengumumkan bahwa salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya. "Ya, aku tahu lukisan itu."
"Mungkin kau mau memanjakanku dalam permainan ini? Tolong tutup matamu."
Merasa ragu, Sophie menutup matanya: "Di mana Yesus duduk?" tanya Teabing. "Di tengah."
"Bagus. Apa makanan yang disantap Yesus dan para murid Nya?"
"Roti." Jelas.
"Bagus sekali. Dan apa minumnya?" "Anggur. Mereka minum anggur."
"Hebat. Dan satu pertanyaan final. Berapa banyak gelas anggur di atas meja?"
Sophie berhenti sejenak, menyadari bahwa ini pertanyaan menjebak. Dan setelah makan malam, Yesus mengambil secangkir anggur, berbagi dengan para murid-Nya. "Satu cangkir," katanya. "Cawan suci." Mangkuk Kristus. Holy Grail. "Yesus membagi-bagi­kan secawan anggur, sebagaimana yang dilakukan kaum Kristen modern pada komuni."
Teabing mendesah. "Buka matamu."
Sophie membuka matanya. Teabing menyeringai angkuh. Sophie memandang ke bawah, ke lukisan itu, melihat dengan takjub bahwa setiap orang di meja itu memegang segelas anggur, termasuk Kristus sendiri. Tiga belas cawan. Selain itu,  cawan-cawan itu tampak kecil, tak bertangkai, dan terbuat dari kaca. Tak ada satu pun cawan sesungguhnya dalam lukisan itu. Tiada Holy Grail.
Mata Teabing berkedip-kedip. "Tidakkah sedikit aneh menurutmu, mengingat bahwa baik Alkitab dan legenda kita yang lazim tentang Holy Grail merayakan momen ini sebagai kemunculan pasti dari Holy Grail. Anehnya, Da Vinci tampak lupa untuk melukis Cawan Kristus."
       "Tentunya para sarjana seni telah mencatat hal ini."
"Kau akan terkejut jika mengetahui berbagai anomali yang dicakupkan Da Vinci dalam lukisan ini, yang kebanyakan sarjana tak melihatnya atau sekadar memilih untuk mengabaikannya.
Gambar ini, sesungguhnya, adalah kunci keseluruhan misteri Holy Grail. Da Vinci membentangkan semuanya secara terbuka dalam The Last Supper."
Sophie memindai karya itu dengan bersemangat. "Apakah lukisan ini mengatakan pada kita apa Holy Grail itu sesungguhnya?" "Bukan apa," bisik Teabing. "Tapi siapa dia. Holy Grail bukanlah sebuah benda. Sesungguhnya, Holy Grail adalah ... seseorang."


SOPHIE MENATAP Teabing lama, kemudian menoleh kepada Langdon. “Holy Grail seorang manusia?”
Langdon mengangguk. “Seorang perempuan.” Dari wajah Sophie yang tampak kosong, Langdon tahu, Sophie tidak mengerti. Dia ingat mempunyai reaksi yang sama ketika dia pertama kalinya mendengar pernyataan itu. Namun itu sebelum dia mengerti simbologi di balik Grail sehingga kaitannya dengan sim­bol perempuan menjadi jelas.


Tampaknya Teabing mempunyai pemikiran yang sama. “Robert, mungkin ini saatnya simbolog memberi penjelasan?” Kemudian Leigh
berjalan ke ujung meja, menemukan secarik kertas, dan meletakkannya di depan Langdon. Langdon mengeluarkan sebuah pena dari sakunya. “Sophie, kau mengenal ikon modern untuk lelaki dan perempuan?” Lalu Langdon menggambar simbol umum lelaki 
 dan sambil perempuan  yang biasa.


“Tentu saja.”
“Ini,” lanjutnya, “bukanlah simbol-simbol asli bagi lelaki dan perempuan. Banyak orang salah menduga bahwa simbol lelaki berasal dari sebuah perisai dan anak tombak, sementara simbol perempuan ditandai oleh sebuah cermin yang memantulkan kecantikan. Sebenarnya, simbol­simbol itu berasal dari simbol-simbol astronomi planet dewa Mars dan planet dewi Venus. Simbol-simbol aslinya jauh lebih sederhana." Langdon menggambar ikon lain pada kertas itu.


"Ini simbol asli untuk lelaki," kata Langdon kepada Sophie. "Sebuah lingga tidak sempurna."
"Sangat langsung ke tujuan," kata Sophie. "Seperti yang seharusnya," tambah Teabing.
Langdon melanjutkan. "Ikon ini resmi dikenal sebagai bilah pedang, dan itu mewakili agresi dan dunia lelaki. Sebenarnya, simbol lingga ini masih digunakan di bidang militer modern sebagai lambang pangkat."
"Betul." Teabing tersenyum. "Semakin banyak penis kau pu­nya, semakin tinggi pangkatmu. Anak lelaki tak pernah dewasa." Langdon mengedipkan matanya. "Kita lanjutkan. Simbol pe­rempuan, mungkin sudah kaubayangkan, merupakan lawannya." Langdon menggambar simbol pada kertas itu. "Ini disebut chalice. "
Sophie menatapnya, tampak terkejut.
Langdon dapat melihat Sophie mulai menangkap hubungan itu. "Chalice" sambung Langdon, "mirip dengan cawan atau bejana, dan lebih penting, itu menyerupai bentuk rahim perem­puan. Simbol ini berhubungan dengan keperempuanan, dunia perempuan dan kesuburan." Langdon menatap langsung pada Sophie sekarang. "Sophie, legenda mengatakan kepada kita bahwa Holy Grail adalah chalice, sebuah tempat minum yang dipakai dalam upacara keagamaan ---- sebuah cawan. Tetapi, penggambaran Grail sebagai cawan merupakan kiasan untuk menyamarkan kesejatian Holy Grail. Jadi, legenda menggunakan cawan sebagai metafora bagi sesuatu yang jauh lebih penting."
"Seorang perempuan," kata Sophie.
"Tepat," Langdon tersenyum. "Grail sebenarnya adalah simbol kuno untuk dunia keperempuanan, dan Holy Grail mewakili perempuan suci dan dewi, yang tentu saja sekarang sudah hilang, dihapuskan oleh Gereja. Kekuatan perempuan dan kemampuannya untuk melahirkan kehidupan pernah sangat disucikan, tetapi itu merupakan ancaman bagi kebangkitan Gereja yang dikuasai lelaki, dan karena itulah perempuan suci diibliskan dan diangggap kotor. Lelaki-lah, bukan Tuhan, yang menciptakan konsep dosa asal, yaitu ketika Hawa mencicipi apel dan menyebabkan jatuhnya ras manusia. Perempuan, yang pernah menjadi pemberi kehidupan yang suci, sekarang merupakan musuh."
"Aku harus menambahkan," kata Teabing, "bahwa konsep pe­rempuan sebagai pernbawa kehidupan merupakan dasar dari agama kuno. Melahirkan anak merupakan peristiwa mistis dan penuh kekuatan. Sedihnya, filosofi Kristen memutuskan untuk menggelapkan kekuatan penciptaan perempuan dengan mengabaikan kebenaran biologis dan menjadikan lelaki sebagai pencipta. Kitab Kejadian mengatakan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Perempuan menjadi bagian lelaki dan penuh dosa. Kitab Kejadian merupakan awal dari berakhirnya pemujaan terhadap dewi."
"Grail," kata Langdon, "merupakan simbol dari dewi yang hilang. Ketika Kristen hadir, agama-agama pagan lama ternyata tidak mati begitu saja. Legenda pencarian Grail yang hilang sebenarnya merupakan cerita-cerita tentang permintaan yang terlarang untuk mencari perempuan suci yang hilang. Para kesatria yang mengaku mencari cawan berbicara menggunakan kode-kode untuk melindungi diri mereka sendiri dari Gereja yang telah menaklukkan perempuan, menghilangkan Dewi, membakar orang­orang kafir, dan melarang penghormatan kaum pagan kepada perempuan suci."
Sophie menggelengkan kepalanya. "Maaf, ketika kau mengatakan bahwa Holy Grail adalah seseorang, kupikir itu bukan orang yang sebenarnya."
"Memang orang," kata Langdon. 
"Dan bukan hanya sembarang orang," Teabing mencetus, sambil berdiri dengan bersemangat. "Seorang perempuan yang membawa rahasia yang begitu kuatnya sehingga, jika terbongkar, akan mengancam merusak dasar Kristen!"
Sophie tampak terkejut sekali. "Apakah perempuan ini terkenal dalam sejarah?"
"Sangat," Teabing mengambil tongkat ketiaknya dan berjalan menuju gang. "Dan jika kita berpindah ke ruang kerjaku, teman­teman, aku akan merasa terhormat untuk memperlihatkan kepada , kalian lukisan Da Vinci tentang perempuan itu."

Holy Grail adalah seorang perempuan, pikir Sophie. Benaknya menjadi sebuah susunan gagasan yang saling membelit namun tidak masuk akal. "Kau bilang mempunyai lukisan perempuan yang kausebut Holy Grail itu:"
"Ya, bukan aku yarig menyebut perempuan itu Holy Grail. Kristus sendiri yang mengatakannya begitu."
"Yang mana lukisan itu?" tanya Sophie, sambil mengamati dinding-dinding di situ.
"Hmmm ..." Teabing seakan lupa akan janjinya. "Holy Grail. Sangreal. Cawan." Tiba-tiba dia bergerak dan menunjuk ke dinding yang jauh. Pada dinding itu tergantung kopi lukisan The Last Supper sepanjang delapan kaki, betul-betul sama dengan gambar yang tadi dilihat Sophie dalam buku. "Nah, itu perem­puannya!"
Sophie yakin ada yang tidak dimengertinya. "Itu lukisan yang sama dengan yang baru saja kauperlihatkan padaku."
Teabing mengedipkan matanya. "Aku tahu, tapi ukuran besar ini jauh lebih menarik. Bukan begitu?"
Sophie menoleh kepada Langdon mencari pertolongan. "Aku tak paham."
Langdon tersenyum. "Holy Grail memang muncul dalam lukisan The Last Supper. Leonardo telah memasukkannya dengan jelas."
"Tunggu dulu," kata Sophie. "Kau bilang Holy Grail itu perempuan. The Last Supper adalah lukisan tiga belas lelaki." "Benarkah?" Teabing mengangkat alisnya. "Coba lihat dengan lebih teliti."
Dengan tidak yakin, Sophie mendekati lukisan itu, mengamati tiga belas tokoh di dalamnya-Yesus Kristus di tengah, enam murid di sebelah kiri-Nya, dan enam murid lain di sebelah kanan-Nya."Mereka semua lelaki," jelas Sophie.
"Oh?" kata Teabing. "Bagaimana dengan yang duduk di tempat kehormatan, di sebelah kanan the Lord?"
Sophie memeriksa tokoh yang duduk tepat di sebelah kanan Yesus. Dia memusatkan perhatiannya pada tokoh tersebut. Ketika dia mempelajari wajah dan tubuh tokoh itu, gelombang kekaguman menerpanya. Tokoh tersebut berambut merah tergerai, kedua lengan lembutnya terlipat, dan dadanya memberi isyarat. Tidak diragukan lagi ... itu perempuan.
"Itu perempuan!" seru Sophie.
Teabing tertawa. "Kejutan, kejutan. Percayalah, ini bukan kesalahan. Leonardo ahli dalam membedakan jenis kelamin tokoh dalam lukisannya."
Sophie tidak dapat melepaskan tatapannya dari perempuan di samping Kristus. The Last Supper seharusnya merupakan lukisan tiga belas lelaki. Siapa perempuan ini? Walau Sophie telah pernah melihat gambar klasik ini beberapa kali, dia belum pernah melihat ketidaksesuaian yang mencolok itu.
"Semua orang tidak melihatnya," kata Teabing. "Pendapat kita yang telah terbentuk sebelumnya tentang gambar ini begitu kuat sehingga pikiran kita memagari keganjilan itu dan mengesampingkan mata kita."
"Hal itu disebut skotoma," tambah Langdon. "Kadang-kadang otak kita bekerja demikian pada simbol-simbol yang kuat." "Alasan lain yang membuatmu tidak melihat perempuan itu adalah," kata Teabing, "banyak foto-foto dalam buku seni dibuat sebelum tahun 1954, ketika rincian-rincian masih tersembunyi di bawah debu yang melekat dari beberapa pelukisan-ulang yang restoratif dikerjakan oleh tangan-tangan ceroboh pada abad XVIII. Kini, setidaknya, lukisan dinding itu sudah dibersihkan hingga lapisan asli lukisan Da Vinci muncul." Dia menunjuk pada foto itu. "Et voila! Ini dia!"
Sophie bergerak mendekati gambar itu. Perempuan di sebelah kanan Yesus itu muda dan tampak saleh, dengan wajah serius, rambut merah indah, dan lengan-lengan terlipat tenang. Inikah perempuan yang sanggup menghancurkan Gereja sendirian?
"Siapa dia?"
"Itu," jawabTeabing, "adalah Maria Magdalena."
Sophie menoleh. "Pelacur itu?"
Teabing terkesiap, seolah dunia baru saja melukai perasaannya. "Magdalena bukan seperti itu. Konsepsi yang salah itu merupakan warisan dari kampanye negatif yang disebarkan oleh Gereja awal. Gereja harus menghapus nama Maria Magdalena untuk menutupi rahasia yang berbahaya-perannya sebagai Holy Grail." "Perannya?"
"Seperti yang kusebutkan tadi," Teabing menjelaskan, "Gereja ketika itu harus meyakinkan dunia bahwa nabi yang dapat mati itu, Yesus, adalah seseorang yang memiliki sifat Tuhan. Karena itu, segala kitab Injil yang menjelaskan aspek keduniaan dari kehidupan Yesus harus dihilangkan dari Alkitab. Celaka bagi para editor terdahulu itu, satu tema keduniaan yang sangat mengganggu terus berulang dalam kitab-kitab itu. Maria Magdalena." Teabing terdiam sejenak. "Lebih khusus lagi, pernikahannya dengan Yesus Kristus."
"Maaf?" Mata Sophie mengarah ke Langdon, kemudian kembali ke Teabing.
"Ini menurut catatan sejarah," kata Teabing, "dan Da Vinci jelas sangat tahu kenyataan itu. The Last Supper secara khusus berseru kepada penikmat lukisan bahwa Yesus dan Maria adalah pasangan suami istri.
Sophie menatap ke lukisan dinding itu lagi.
"Perhatikanlah, Yesus dan Magdalena berpakaian seperti pantulan mereka masing-masing." Teabing menunjuk pada dua tokoh di tengah lukisan dinding itu.
Sophie terkagum-kagum. Cukup yakin, pakaian mereka berwarna sebaliknya. Yesus mengenakan jubah merah dan mantel panjang biru; Maria Magdalena mengenakan jubah biru dengan mantel merah. Yin dan Yang.
"Yang lebih aneh lagi," kata Teabing, "perhatikan bahwa Yesus dan pasangannya tampak sangat berdekatan dan saling bersandar satu sama lain, seolah mereka menciptakan ruang negatif yang tergambar jelas di antara rnereka."
Bahkan sebelum Teabing menunjukkan kontur lukisan itu, Sophie sudah melihatnya -simbol V yang tak dapat diragukan pada bagian yang tampak terang pada lukisan itu. Itu adalah simbol yang sama dengan yang sudah digambarkan Langdon tadi untuk mewakili Grail, cawan, dan rahim perempuan. "Akhirnya," kata Teabing, "jika kau dapat melihat Yesus dan Magdalena sebagai elemen-elemen komposisional dan bukannya manusia, kau akan dapat melihat bentuk lain yang lebih jelas lagi di depan matamu." Dia terdiam. "Sebuah huruf alfabet." Sophie langsung dapat menemukannya. Mengatakan bahwa huruf itu di depan mata adalah terlalu menyederhanakan persoalan. Bagaimanapun, huruf itu segera dapat dilihat Sophie. Berkilauan di tengah lukisan, begitu jelas dan besar, tak diragukan lagi, huruf M.
"Agak terlalu sempurna jika dikatakan itu hanya kebetulan saja, bukan?" tanya Teabing.
Sophie terpesona. "Mengapa huruf itu ada di situ?"
Teabing mengangkat bahunya. "Teori konspirasi akan mengatakan, itu adalah singkatan dari Matrimonio atau Maria Magdalena. Jujur saja, tak seorang pun yakin akan hal itu. Satu­satunya yang meyakinkan hanyalah bahwa huruf M yang tersembunyi itu bukanlah kekeliruan. Karya-karya seni yang berhubungan dengan Grail, yang tak terhitung jumlahnya, menyisipkan huruf M, kadang sebagai cap air, di bawah sapuan cat, atau sebagai sindiran komposisional. Huruf M yang paling tampak jelas adalah, tentu saja, hiasan altar pada Our Lady of Paris di London, yang dirancang oleh mantan Mahaguru Biarawan Sion, Jean Cocteau."
Sophie mempertimbangkan informasi itu. "Aku akui, M yang tersembunyi itu membangkitkan rasa ingin tahu, walau aku juga percaya tidak ada yang mengakui . bahwa itu membuktikan bahwa Yesus menikahi Magdalena."
"Tidak, tidak," kata Teabing "Lagi pula, Yesus sebagai lelaki yang menikah adalah lebih masuk akal daripada pandangan standar kitab suci kita, yang menyatakan Yesus seorang bujangan."
"Mengapa?" tanya Sophie.
"Karena Yesus orang Yahudi," kata Langdon, menyela ketika Teabing masih mencari-cari bukunya. "Dan menurut kepantasan sosial pada zaman itu, jelas terlarang bagi seorang lelaki Yahudi untuk tidak menikah. Menurut adat Yahudi, tidak menikah itu terkutuk, dan kewajiban seorang ayah Yahudi adalah mencarikan istri yang pantas bagi anak lelakinya. Jika Yesus tidak menikah, paling tidak salah satu kitab Injil akan mengatakannya dan memberikan beberapa penjelasan tentang kelajangannya yang tak biasa itu.
"Ini adalah fotokopi dari Nag Hammadi dan Gulungan­Gulungan Laut Mati, yang tadi kuceritakan," kata Teabing. "Ini catatan Kristen paling awal. Yang membingungkan adalah, tulisan di sini tidak sesuai dengan kitab-kitab Injil dalam Alkitab." Teabing kemudian membuka bagian tengah buku, lalu menunjuk sebuah bagian. "Injil Philip selalu awal yang baik."
Sophie membaca bagian itu:
"Dan teman Sang Juru Selamat adalah Maria Magdalena. Kristus mencintainya lebih daripada cinta-Nya kepada seluruh muridnya, dan Yesus sering menciumnya di mulut. Murid-murid yang lain tersinggung kerenanya, dan mengungkapkan ketidak setujuan mereka. Mereka berkata kepada Yesus, `Mengapa Engkau lebih mencintainya daripada kami semua?"
Kata-kata itu mengejutkan Sophie, namun tidak cukup meyakinkan. "Ini tidak menyebut-nyebut soal perkawinan."
"Au contraire, sebaliknya," Teabing tersenyum, sambil menunjuk pada baris pertama. "Seperti yang akan dikatakan oleh setiap sarjana Aramaic padamu, kata teman, pada zaman itu, secara harfiah berarti pasangan hidup."
Langdon mengiyakan dengan sebuah anggukan.

TheN2SD

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar